EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN KRITIS PERSPEKTIF IVAN ILLICH (1926-2002)
Ivan Illich, sejarawan ikonoklastik dan kritikus sosial, mengabdi sebagai pastur gereja, pengelola dan guru besar universitas, direktur lembaga kajian, dosen dan penulis.
Ia sangat terkenal dikalangan pendidikan atas karya-karya
yang ditulisnya pada akhir tahun 1960-an dan 1970-an, terutama buku keduanya Deschooling
Society.
Ketika Illich menyebutkan “Barat sebagai penyeimbang
wahyu”, dapat dengan mudah disimpulkan bahwa kepercayaan teologisnya
mempengaruhi kritik sosialnya.
Namun
kesimpulan yang sama tak akan diperoleh jika hanya membaca Deschooling
Society.
Didorong
oleh keyakinannya bahwa kekuasaan sekuler atau aktivisme sosial berada dibalik
misi khusus gereja, Illich menyatakan dalam sebuah essai mengenai perlunya
“cita-cita humanis radikal” dan “ideologi sekuler” untuk merencanakan dan
mencapai “solusi baru bagi masalah-masalah sosial”.
Sehingga
sampai saat ini Illich menulis sebagai humanis radikal dengan bahasa sekuler
untuk membahas permasalahan sosial.
Oleh
karena itu, mereka yang mempelajari Ivan Illich dianjurkan membacanya melalui
kacamata teologis dan sekuler.
Lahir
sebagai anak sulung dari tiga bersaudara pada September 1926 di Wina, Austria,
ketaatan Illch pada Gereja tetap utuh selama masa mudanya yang bergolak.
Saat
merenungkan keberadaanya sebagai anak yang harus mengikuti orang tuanya dan tak
pernah belajar di sekolah tertentu, Illich menyebutkan bahwa ia sempat
berpindah-pindah tempat tinggal selama empat tahun di Dalmatia, Wina, dan
Prancis, atau dimana pun orang tuanya berada.
Baru
di rumah kakeknya di Wina, ia bertempat tinggal selama tahun 1930-an.
Saat
masih anak-anak inilah, perkembangan intelektual Illich bertambah bukan hanya
karena belajar dari sejumlah guru privat yang mengajarkan berbagai bahasa (dan
dikuasainya kemudian) dan membaca buku-buku dari perpustakaan pribadi neneknya,
melainkan juga interaksinya dengan cendekiawan-cendekiawan penting yang menjadi
sahabat orang tuanya (seperti Rudolf Steiner, Raine Maria Rilke, dan Jacques
Maritain, belum lagi dokter keluarganya Sigmund Freud).
Illich
dianggap terlalu muda bersekolah, sehingga ia tidak segera dimasukkan ke
sekolah meskipun sudah menunjukkan kecerdasan. Pada tahun 1941, bersama ibu dan
saudara kembarnya, mereka meninggalkan Austria dan tinggal di Italia. Walaupun
ia sulit menjelaskan keputusannya, pada periode inilah Illich memasuki Biara.
Pada
usia 24 tahun, ia ditasbihkan menjadi pastur dan meraih gelar master dalam
bidang teologi dan filsafat dari Gregorian University, Roma.
Tak
lama kemudian ia memperoleh gelar doktor filsafat sejarah dari Uiversity of
Salzburg. Di Salzburg dengan
bimbingan profesor Albert Auer dan Michael Muechlin, Illich mulia berminat pada
metode sejarah dan interpretasi askah lama.
Auer, yang tulisannya mengenai teologi penderitaan (theology
of suffering) abad ke-12 sangat relevan bagi Illich, membimbing Illich
untuk menyelesaikan tesis doktoralnya tentang metode sejarah dan filsafat
Arnold Toynbee.
Illich
juga mempelajari kimia lanjut (kristalografi) di University of Florence.
Para
pembaca Illich tahu bahwa ia tidak memberi judul Deschooling Society untuk
bukunya. Adalah Cass Canfield, Sr., Presiden penerbit Harper, yang memberikan
judul itu untuk tujuan pamasaran.
Illich
tidak menganjurkan penghapusan sekolah, tetapi disestablishment. Maksudnya
adalah dana publik jangan digunakan untuk membiayai sekolah.
Sebaliknya,
ia percaya bahwa sekolah harus membayar pajak, sehingga persekolahan menjadi
barang mewah dan dengan demikian memberi dasar yang sah untuk menghentikan
diskriminasi terhadap mereka yang tak bersekolah.
Akibatnya,
tercipta pemisahan antara sekolah dan negara sebagaimana pemisahan antara
gereja dan negara yang diakui konstitusi Amerika Serikat.
Illich
juga percaya bahwa pendaptnya itu akan menghasilkan perbaikan kualitas
pendidikan.
Niat
untuk belajar dapat diwujudkan dengan tujuan yang lebih otentik dan tanpa motif
tersembunyi dari mereka yang ingin belajar dan pendidikan dapat diberikan
sebagai kegiatan dikala senggang (act of leisure) dan sebagai berkah
cinta dan ampunan bagi mereka yang mencaari pengetahuan, karena pendidikan
tidak diwajibkan.
Lebih
lanjut para pembaca Illich harus memahami bahwa pemikiran dan pendekatannya
terhadap studi persekolahan dan pendidikan mulai bergeser bahkan sebelum
penerbitan Deschooling Society.
Secara
metodologis, analisis fenomenologis yang digunakan dalam Deschooling Society
bersumber dari minatnya terhadap ecclesiology.
Bagi
Illich ecclesiology adalah ‘pendahulu sosiologi”, dan didalamnya
terdapat “kajian ilmiah terhadap komunitas tertentu yang menjadi cita-cita
gereja dan ecclesiology yang sudah ada sejak abad ke-4”.
Didalam
ecclesiology terdapat liturgi, yaitu cabang ecclesiology
dengan fokus ritual dan tata cara yang “menciptakan komunitas yang kemudian
menganggap dirinya gereja dan dipelajari ecclesiology”.
Oleh
sebab itu, salah satu bab terpenting dalam Deschooling Society berjudul
“The Ritualization of Progress”. Dalam esai itu, Illich memaparkan bagaimana:
“Sistem
sekolah saat ini menjalankan tiga fungsi umum gereja sepanjang sejarahnya,
yakni menjadi gudang mitos masyarakat, pelembagaan kontradiksi dalam
mitos tersebut, dan lokus ritual yang mereproduksi serta menyelubungi
antara mitos dan realitas.”
0 Comments: