TEORI MARXISME - PEMIKIRAN HEGEL (1770-1831)

TEORI MARXISME - PEMIKIRAN HEGEL (1770-1831)


FILSAFAT JERMAN KLASIK

Filsafat Jerman Klasik merupakan tahap dalam perkembangan filsafat, yang diwakili oleh ajaran Kant, Fichte, Schelling, Hegel dan Feuerbach. Filsafat Jerman Klasik muncul pada abad ke-18—paruh pertama abad ke-19. 
Ada pandangan tertentu bahwa munculnya Filsafat Jerman Klasik adalah pengaruh dari Revolusi Inggris dan P
Sumber-sumber teoretis dari Filsafat Jerman Klasik mencakup prestasi-prestasi yang terbesar dari pengalaman rohani sebelumnya dari umat manusia, khususnya, gagasan yang diwariskan dari Pencerahan Perancis dan Jerman; 
Rasionalisme Descrates, Spinoza, Leibniz; 
jalur materialis dalam filsafat (F. Bacon, Hobbes, Spinoza, Gassendi, dan orang-orang lain). 
Filsafat Jerman Klasik diwakili oleh semua aliran utama dalam filsafat: Dualisme (Kant), Idealisme Subyektif (Fichte), Idealisme Objektif (Schelling, Hegel), dan Materialisme (Feuerbach).
Seluruh perkembangan Filsafat Jerman Klasik memperlihatkan bahwa pemahaman dunia dan manusia yang sangat komplit, yang pada asasnya ilmiah dan filosofis, hanya mungkin atas suatu dasar materialis dengan menggunakan semua prestasi Filsafat Jerman Klasik khususnya dialektikanya. 
Justru keadaan inilah yang menjadikan Filsafat Jerman Klasik salah satu sumber dari Marxisme.

METAFISIKA HEGEL

Hegel memahami metafisika sebagai penyusunan sehimpunan deduksi rasional yang akan merangkumi dan menjadi contoh realitas. 
Berbeda dengan sistem rasional Descrates dan Spinoza, sistem Hegelian bersifat dialektis, yang timbul dengan oposisi dan sintesis dan bukan tipe-tipe penalaran yang lebih dikenal. 
Yang juga tidak biasa adalah pernyataan bahwa pada akhirnya Roh Absolut-lah yang direduksikan, dan yang hidupnya sesungguhnya merupakan kehidupan dunia ini.

KEBENARAN (ABSOLUT & RELATIF )

Persesuaian antara fikiran dengan dunia objektif–tetapi pengertian ini memakai ukuran-ukuran pokok yang berikut: 
(a) dunia, kenyataan yang objektif, ada dengan tidak bergantung kepada kesadaran manusia, 
(b) dunia adalah suatu proses, adalah benda yang berkembang menurut proses sejarah, 
(c) dalam praktek sosial yang bersejarah manusia “harus membuktikan kebenaran itu, yaitu, kenyataan & kekuasaan, ‘keberat-sebelahan’ daripada fikirannya”.

PHENOMENOLOGY OF THE SPIRIT

Hegel dalam Phenomenology of the Spirit merinci tahap-tahap yang memungkinkan manusia Barat naik pada tingkat akal budi universal. 
Hegel mempunyai tujuan yang sama dengan Fichte, yaitu bahwa tujuan kehidupan merupakan perkembangan tata rohani. Dalam karya Phenomenology of the Spirit tersebut ia mulai melacak garis-garis perkembangan itu. 
Dalam deduksinya dari kategori-kategori, Hegel membedakan antara roh objektif dan mutlak. 
Hegel melihat roh sebagai kesatuan kesadaran-diri dan kesadaran yang dicapai dengan rasio. 
Ia juga menganggapnya sebagai kesatuan kegiatan praktis & teoretis. 
Roh berada sejauh ia aktif, kendati satu-satunya kegiatan roh adalah pengalaman. 
Menurut Hegel, roh mengatasi yang alamiah, yang inderawi. 
Dan roh memperoleh kediriannya dalam proses pengenalan-diri. Sejarah adalah dialektika roh.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 Comments: